Stepi

Beautiful in It's Time

Pentingnya pendidikan karakter

Leave a comment

Tiba-tiba kepikiran pengen nulis topic yang berkaitan dengan pendidikan, awal mulanya ya itu terinspirasi dari perkataan dari salah satu kandidat capres kita tahun ini yang membahas tentang betapa pentingnya pendidikan. Anyway, jujur secara pribadi saya merasa jleb banget dengan kata pakde kita itu, “Saat SD penting 80% pendidikan karakter, 20% pengetahuan, Saat SMP 60% pendidikan karakter, 40% pengetahuan, Saat SMA 20% karakter, 80% pengetahuan”. Kira-kira begitu pernyataan beliau, CMIIW ya…

Ingat!! ini bukan kampanye atau menunjukkan saya pro ke salah satu kandidat capres, tapi ide ini tertulis melalui proses dalam waktu satu malam. Yap..dari mulai tadi malam nonton debat, saya mulai konsentrasi mendengar perkataan-perkataan dari masing-masing capres. Sampai di titik dimana si pakdhe ini mengungkapkan suatu pernyataan yang menurut saya bagus banget. Saking bagusnya nih, kebawa di pikiran terus, besoknya nyampe di kantor, malah kepikiran pengen nulis topic ini.

OKEH…itu hanya intermezzo..

Say yes to pendidikan karakter, bukan maksud saya untuk say no untuk pendidikan pengetahuan ya.  Pendidikan pengetahuan itu penting tapi ada yang lebih penting dari sekedar tahu soal pengetahuan yaitu karakter. Ya,,apa jadinya suatu negara yang generasi mudanya pintar dalam bidang pengetahuan, sains, dsb..tapi etikanya nihil.

Bahkan menurut saya yang merupakan produk dari sistem pendidikan dari dulu yang mengedepankan pendidikan ilmu pengetahuan, sudah merasakan atau bahkan menyesal kenapa guru-guru saya dulunya itu tidak terlalu melatih mental anak didiknya. Yah..saya juga tidak bisa asal menyalahkan mereka, toh mereka juga punya target kurikulum yang harus diselesaikan dalam kurun waktu tertentu.

Kenapa baru menyesal saat ini?

Saya dulu tuh selalu unggul dalam bidang pengetahuan, buktinya setiap tahun selalu masuk dalam sepuluh besar bahkan tiga besar, bukan bermaksud untuk menyombongkan ya teman-teman, tapi saya hanya mencoba untuk mengambil contoh dan contoh realnya adalah saya..

Dari SD, SMP, SMA..saya ini orangnya aslik pendiam, pemalu. Kalo di kelas itu ya bergaulnya hanya dengan orang-orang tertentu saja. Paling takut kalo disuruh maju ke depan untuk memberikan presentasi ato sekedar nulis didepan papan tulis, itu saja sudah gemetaran. ASLIK akik penakut abis waktu itu.

Kebiasaan tidak berani ngomong di depan umum ini terbawa sampe saya kuliah, wedew…sampe parno banget kalo dikasi tugas kelompok yang ujung-ujungnya harus dipresentasikan di depan kelas. Dari tugas itu diberikan sampe batas tenggang waktu harus dipresentasikan di depan kelas, selama itulah diriku selalu dibayang-bayangi rasa ketakutan untuk berbicara di depan kelas, apalagi dengan pengetahuan di jurusan yang saya ambil waktu itu yang pas-pasan. Dalam masa-masa itu yang bisa saya lakukan adalah mencari bahan untuk dipresentasikan, tapi pada hari H nya saya tetap tidak bisa tenang, saya gelisah. Akhirnya saya cari alasan untuk tidak ngomong di depan, alih-alih berpindah tugas sebagai pemegang atau pengatur slide presentasi, dan ujung-ujungnya yang tukang cuap-cuap adalah teman satu kelompok yang lebih berani tampil.

Berlanjut ke dunia kerja, setelah lulus dari kuliah, saya bekerja di suatu perusahaan manufaktur di bagian IT. Entah kenapa saya bisa keterima bekerja disini, yang jelas ada campur tangan Tuhan dalam hal ini, i think so. But, i wanna say thanks to Lord God that has given me this chance to open my eyes and see this real world. Saya memasuki babak baru dalam kehidupan saya dimana saya harus berhubungan langsung dengan para user-user yang luar biasa keanekaragaman sifatnya.

Dan kini setelah 4 tahun lebih lamanya menyicipi pengalaman pahit manis di dunia kerja, i was really realized that hard skill is became nothing without having good soft skill like communication skill, interpersonal skill, etc.

Mungkin bisa dibilang sifat dan karakter seseorang susah untuk diubah, tapi dengan adanya pendidikan karakter serta tenaga-tenaga pengajar yang berkualitas, karakter-karakter seseorang akan diarahkan menjadi lebih baik, misalnya seorang anak yang pendiam dan pemalu seperti saya, bisa dibiasakan untuk memberikan presentasi di depan kelas, atau diikutkan dalam kegiatan ekstrakurikuler, gurunya justru lebih mendorong anak tsb untuk aktif di kegiatan luar kelas, bukannya malah menekan anak tsb untuk memperbagus prestasi akademiknya dengan menyuruhnya untuk belajar belajar belajar dan belajar.

Weleh..panjang benar celotehanku kali ini. Judulnya aja yang agak cool, isinya..malah curcol panjang lebar gini..hehehe…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s