Stepi

Beautiful in It's Time


2 Comments

Gabriel Tumbuh Gigi

Awal bulan Mei lalu, Gabriel mengalami mencret, dan mencretnya bisa sampai 5-8 kali sehari selama kurang lebih seminggu. Itu cukup membuat kami sekeluarga cemas akan keadaannya. Kami sempat was-was dan berharap si kecil supaya cepat sembuh sehingga minggu depannya bisa kami bawa pergi ke Solo. Berhubung ini tiket pesawatnya sudah dibeli beberapa bulan sebelumnya dan MURAH karena belinya pas lagi ada promo, sehingga lumayan menghemat budget untuk pulang kampung, hehe… Yap, si suamik emang selalu jeli dan tidak mau terlewati kalau ada tiket murah, secara kampungnya jauh di pulau jowo sono, jadi karena jauh, otomatis biaya pesawat pasti lebih mahal donk ya, nah mesti rajin-rajin browsing cari tiket murah atau maskapai yang lagi buka promo *berharapjanganadamaskapaiyangbangkrutgaragarakebanyakanpromo*…hehehe…

Eh ini..bicara anak apa tiket pesawat sih, makin melenceng dari yang mo diceritakan nih..

Jadi setelah Gabriel mencret-mencret itulah, saya dan suamik bawa ke dokter spesialis anak yang ada di daerah tempat kami tinggal dan mencari nafkah yang lumayan terpencil nun jauh dari kota Pekanbaru. Sebut saja dr. E, ini bukan kunjungan berobat yang pertama kalinya bagi Gabriel, sebab sebelumnya pernah imunisasi dan berobat di sini juga.

Antrian di dokter ini ga terlalu banyak, sehingga ngga berapa lama setelah urusan administrasi, timbang berat badan bayi, dsb, kami pun dipanggil oleh perawatnya untuk masuk ke ruang praktek dr. E.  Lalu kami pun bercerita tentang keadaan Gabriel yang sudah mencret beberapa hari ini. Lalu Gabriel dibaringkan dan diperiksa oleh dr.E.  Entah karena saking paniknya saya, tiba-tiba saya bertanya pada dr.E.

saya: Dok, ini mencretnya apa gara-gara mau tumbuh gigi? Soalnya ada yang bilang begitu sih, dan saya lihat gusi depan sudah warna putih, seperti gigi tapi belum muncul.

dr.E : tidak ada hubungannya mencret dengan mau tumbuh gigi. Itu tidak ada hubungannya. Yang ada itu demam kalau pas mau tumbuh gigi.

saya: *terdiam*

waktu itu sih saya cuma diam aja setelah dengar jawaban dari dr.E, tapi ya saya percaya aja waktu itu pada kata dr.E ini, ya kalo dipikir-pikir, mungkin ini cuma mitos dari orang tua atau lingkungan sekeliling kita.

Minggu depannya setelah sembuh dan sudah kami bawa ke Solo, ternyata Gabriel tumbuh gigi, sodara-sodara..

Dan pada saat itu, saya teringat kembali dengan perkataan dr.E yang tidak membenarkan kalau mencret itu adalah salah satu gejala dari tumbuh gigi pada bayi. Saya jadi bingung, ditambah lagi dengan kata-kata orang yang sudah berpengalaman mengasuh anak, yang bilang kalau mencret itu adalah salah satu gejala dari tumbuh gigi.

Saya coba googling sana sini mengenai tanda-tanda tumbuh gigi pada bayi, tapi tidak yang menyebutkan mencret sebagai salah satu tanda bahwa bayi tsb akan tumbuh gigi.

So, Whether it can be called as a myth?


2 Comments

Digendong VS Diayun

Bolehkah bayi digendong terus sampai tidur? Bolehkah bayi diayun-ayun dalam ayunan hingga tidur? Pertanyaan ini masih terus berputar dalam otak gw dari briel lahir sampe sekarang, total 8 bulan. hufh..

Dari awal lahiran hingga sebulan pertama tinggal di tempat bokap nyokap dan gw dan debay diurus oleh nyokap dengan metode pengasuhan yang selama ini beliau terapkan ke gw dan adik-adik gw dulu waktu kecil. It’s fine. Tidak ada masalah buat gw dengan cara dan pemikiran yang dipercayai oleh nyokap gw, yang penting buat gw adalah semua yang dilakukan mempunyai tujuan akhir yang baik.

Sebulan setelah melahirkan keluarga dari pihak suami berkunjung, dan gw beserta  debay diboyong ke rumah kami yang nun jauh di pelosok hutan. Di situlah pola asuh debay agak sedikit berbeda dari yang sebelumnya diasuh oleh nyokap gw biasanya. Dan lebih banyak persamaan.

Satu-satunya perbedaan yang mencolok adalah..

Gendong

Nyokap gw emang ngga menerapkan metode untuk selalu menggendong bayi terus-menerus sampe berjam-jam, debay memang digendong alias ditimang-timang dulu waktu mau tidur, begitu bayinya sudah tidur ya sudah langsung diletakin di kasur.

Nyokap mertua menerapkan cara untuk selalu menggendong bayi waktu mau tidur, biar tidurnya lebih pulas KATANYA. Gw sih manggut-manggut aja, nurut-nurut saja. Ooohh gitu..

Beberapa bulan yang lalu, nyokap mengeluh sakit dan pegel punggungnya karena debay gabriel tambah berat badannya, dan ga sanggup untuk menimang, akhirnya nyokap saranin untuk pakai buaian/ayunan untuk menimang debay gabriel. Yah..kasian juga liat nyokap, akhirnya gw dan suami beli deh tu ayunan. Nah sekarang setiap gw tinggal ngantor, kan debay gabriel gw titip sama amaknya(nyokap gw) yah jadinya setiap mau bobok langsung dicemplung ke dalam buaian sama amaknya. Alhasil, ya debay akhirnya kecanduan buaian.

Nah 2 minggu yang lalu gw, suami, dan debay gabriel bertandang ke rumah maknya yang di jawa, ya nggak ketinggalan tuh buaian juga kami bawa kesono, buat jaga-jaga kalau si debay ini kangen sama buaiannya.

Sampe disana, yah dipasangkan tuh buaian, alhasil dikomplain deh sama engkongnya(papa mertua), “koq pake ayunan?, ga bagus loh, mesakke boyok e, ya harusnya ditimang-timang atau gendong aja lebih bagus”, kata engkongnya sambil terheran.

“Yah, kami dulu waktu kecil juga begitu koq”, batinku dalam hati. *cuma berani dalam hati tok**hahhaha*. Tapi ya mesti nurut aja apa yang disampaikannya itu. Yah hasilnya si debay ini gw gendong waktu mau bobok selama SATU MINGGU disana..

Ya Tuhan..bukan gw gak mau untuk menggendong anak gw sendiri, tapi ituloh boyokku MESAKKE dunk!!!! Ya tetap namanya juga bandel, ya iseng-iseng di rumahnya kalo lagi ga ada orang, ya tetap pake ayunan saja..

Sepulangnya dari Jawa, gw bilangin ke nyokap kalo debay gabriel disaranin untuk tidak menggunakan buaian,lalu apa reaksi nyokap atas pernyataan gw ini. Yah tentunya beliau komplain juga, dan beliau bilang justru digendong terus itu ngga bagus buat debay itu sendiri.

*Hening sejenak sambil berpikir*

Ternyata beda daerah beda juga metode pengasuhan anak, di satu sisi mengatakan ini yang terbaik, dan di sisi lain mengatakan ini ngga bagus. Tapi gw yakin apa yang mereka lakukan dan apapun pola pengasuhan yang diterapkan masing-masing walau berbeda tapi mereka pada dasarnya mempunyai tujuan dan maksud yang baik.

 

 


Leave a comment

8 months Baby G..

Tgl 4 kemarin Gabriel genap berusia 8 bulan… selamat ulbul ya nak..

Update perkembangannya sekarang:

– di usianya sekarang ini baby G sudah bisa merangkak…*horayyy*, sudah bisa menggapai barang/mainan kesukaannya.

– belom ada satu gigi pun yang nongol

– sudah bisa duduk dengan stabil di baby walker

– sudah bisa mendorong baby walkernya mundur memggunakan kakinya..*asik..ini yang ditunggu-tunggu*

– sudah mulai bertingkah di dalam buaian/ayunan, kalo di dalam buaian pengennya diayun terus sampe bobok, kalo belom bobok, pengennya main-main, atraksi-atraksi gitu, miring sana miring sini, lalu tengkurap di dalam buaian..dulu masih ingat waktu pertama kali Baby G ini ditaruh dalam buaian, asli kaku banget, keliatan takut sambil pegangan…hehehe..mungkin masih dalam tahap penyesuaian lingkungan baru kali yaa..

Update menu makanannya sekarang ini:

– bubur (beras putih + kentang + wortel + ikan patin + brokoli)

-bubur tepung gasol (beras merah), sudah tidak disajikan lagi, mengingat gara-gara ini BAB nya jadi tidak lancar..

– jus semangka, pepaya, jeruk.

Kemarin sempat kepikiran pengen kasih biskuit tapi emaknya yang pelupa ini lupa-lupa terus ngebeliin biskuit buat Baby G..

Problem yang pernah terjadi selama ini:

Sejauh ini masalahnya masih masalah BAB nya yang tidak lancar, kadang mau sampe 3-4 hari ngga BAB.., solusi: pokoknya setiap hari itu paling ngga harus ada konsumsi buah, biasanya aku jus atau dibenyekin/dihancurin begitu saja kalau buahnya lembek seperti pepaya.

Dan demikian update perkembangan Baby G, sehat-sehat terus ya nak..


Leave a comment

Delivering Gabriel

*Sepertinya udah telat postnya ya, tapi gapapalah dari pada ga di-post sama sekali hehe..*

Sehari sebelum kelahiran gabriel, adikku yang paling kecil berangkat ke Jakarta kemudian dilanjutkan perjalanan esoknya ke Guang Zhou untuk menempuh kuliah singkat di sana.
Saya sempat beberes rumah, nyapu, ngepel seluruh ruangan di rumah, plus latihan jongkok berdiri (atas saran dari obgyn). Habis itu ya seperti biasanya lanjut online di depan laptop sampai jam makan siang. Tidak ada tanda-tanda akan melahirkan dan pada malamnya sempat bergumam “kapan kamu keluar dek?” *tau-tau si dedek mendengar kali ya gumaman ibunya dan akhirnya brojol lah dia hehehe…*

04 Sept 2013

Pkl. 03.00 – seperti malam-malam sebelumnya semenjak hamil besar, setiap pagi mesti bangun, memutar posisi badan supaya lebih nyaman tidurnya. Masih belum ada tanda-tanda akan melahirkan. Lalu lanjut tidur lagi.

Pkl. 07.00 – Bangun tidur dan pergi ke toilet, selesai buang air kecil dan posisi masih jongkok di closet tiba-tiba ada cairan ngucur keluar, sempat aneh dengar suara air cemplung ke dalam lubang closet. *masih nyantai aja*
Lalu beranjak ke kamar untuk online di depan laptop. Baru duduk sebentar saja tapi daster bagian belakang sudah basah dan tembus sampe ke kasurnya adik. *Hmm..baru mulai panik dan mengira apakah tadi itu air ketuban dan mencoba tenang*

Sembari berpikir akan ke rumah sakit, saya sarapan dulu..tapi cairan itu makin banyak keluar dan membasahi tempat duduk dan lantai. Mama yang melihat begitu banyak cairan bening di lantai kaget dan menyuruh agar segera ke rumah sakit.

Pkl. 07.40 – menuju rumah sakit setelah menunggu taksi selama beberapa menit. Di perjalanan saya memberi kabar kepada suami, bahwa saya sudah pecah ketuban. Kebetulan pada hari itu bertepatan pada hari pilkada Riau, maka pada hari itu diliburkan. Sehingga yang awalnya si suami yang berencana ngantor, mengurungkan niatnya dan pergi ke pekanbaru.

Pkl. 08.00 – sampai di RS Awal Bros, saya ditemani mama langsung menuju ke area perawatan Gardenia (berdasarkan surat rujukan dari obgyn yang saya dapat ketika kontrol terakhir kehamilan). Saya dibawa ke ruang perawatan, sambil menunggu obgyn nya datang, suster menyuruh saya berbaring dan saya dipasang alat pendeteksi detak jantung bayi di perut dan satu tombol yang harus dipencet setiap ada gerakan bayi.

Pkl. 09.00 – obgyn datang, setelah diperiksa, ternyata saya sudah bukaan 2, hmm..kaget karena belum ada kontraksi sama sekali, tapi sudah terjadi pembukaan.
*baru kali pertama diperiksa dalam, rasanya sesuatu banget, sakit bangettt hiks…hiks*

Belum kebayang gimana nanti sakitnya waktu udah kontraksi dan melahirkan, saya mulai cemas dan takut huaaaaaa….

Oleh obgyn saya disarankan untuk dilakukan induksi, karena melihat kondisi saya yang air ketubannya sudah banyak keluar, saya pun hanya bisa pasrah dan mengiyakan saja.

Pkl. 10.30 – Setelah proses administrasi selesai dan suami tiba di rumah sakit, saya pun diinfus cairan yang dalamnya berisi obat perangsang kontraksi. *hiks* *stressfull*
Suster beberapa kali menyuruh saya agar relax sehingga mudah diinfus. Akhirnya saya selesai diinfus dan bersiap menanti kontraksi.

Oh ya…saya lupa tepatnya jam berapa secara kebetulan saya didatangi ibu pendeta yang saat itu baru saja selesai dilakukan perawatan pasca operasi kecil yang dilakukannya beberapa hari yang lalu. Tapi saya percaya kedatangannya bukan secara kebetulan, melainkan sudah ada campur tangan Tuhan di dalamnya.

Setelah ngobrol-ngobrol dengan kami, bapak pendeta dan ibu pendeta itu pergi keluar untuk mengurus keperluan administrasi.

Pkl. 11.00 – kontraksi ringan sudah mulai terasa.

Kira-kira pkl. 11.30 kalau tidak salah, bapak dan ibu pendeta datang lagi ke ruang perawatan, kali ini mereka datang dengan dua orang dari tim pendoa GBI Pekanbaru.
Tak berapa lama kemudian kami berkumpul dan menyanyikan lagu pujian *saya lupa lagunya karena saat itu sudah kontraksi dan menjadikan saya tidak fokus*
Kemudian saya didoakan oleh mereka. Setelah itu ngobrol singkat dan bersalaman, akhirnya mereka pulang.

Kontraksi makin terasa dan dalam waktu yang singkat sampai dua menit sekali kontaksi itu datang dan hilang secara beraturan. Sembari memegang handphone dan menghitung waktu kontraksi, semakin tidak tertahankan rasa sakitnya. Sampai ada rasa untuk mengejan.

Saya mulai meringis kesakitan dan meminta mama untuk memanggil suster. Suster datang dan memeriksa dalam, ternyata sudah bukaan 7.

Pkl. 14.00 – saya dibawa ke ruang persalinan. Keinginan untuk mengejan semakin kuat dan tak tertahankan lagi. Saya ditemani suami dan mama dalam ruang persalinan.

Pkl. 14.25 – Lahirlah “Gabriel Marcello Kristanto” 🙂

Gabriel